“Mam.. Minggu depan yaa keramasnya, hari ini mendung, ujan terus jadi dingin nanti. InshaAllah minggu depan aku balik nanti aku cuci rambut mama”
… dan seminggu kemudian Mama dipanggil Allah SWT, dan aku masih punya ‘hutang’ yang belum aku tunaikan..
Itu sepenggal cerita yang cukup personal antara aku dan Mama. Cuciin rambut Mama jadi salah satu kegiatan khusus antara aku dan Mama (walaupun kadang dikerjakan sama yang lain), dengan semua produk yang aku kasih ke Mama.
Selama 38 tahun, I haven’t expressed my gratitude to Mama enough. So I am going to dedicate this as a ‘thank you letter’ to you Mam..
Mama, terima kasih banyak sudah melahirkan aku (yang katanya beratku 3.8kg pas lahir), membesarkan aku, mendidik aku hingga menjadi sekarang, dan sudah menjadi the biggest supporter in my life.
Terima kasih sudah menjadi Ibu yang asik, yang gaul dan sangat memahami aku. Dari hal kecil seperti membiarkan aku melakukan kegiatan -kegiatan kenakalan waktu aku remaja, selalu mendoakan aku kemana pun aku pergi jalan-jalan, membelikan aku barang-barang nggak penting pas lagi belanja; hingga hal besar seperti menjadi pendengar yang baik ketika aku punya masalah besar dengan hidup yang aku jalani, dan selalu mendukung untuk pergerakan karir aku.
Terima kasih untuk selalu mencintai aku dan kedua kakakku, memberikan doa untuk kehidupan kami yang lebih baik. Terima kasih untuk ocehan-ocehan dari Mama, yang deep down I know you scare us because you care about us.
Thank you for all the wisdoms you have shared to me throughout my life.
There are no words to say how lucky I am to be your son.
I am who I am today, because of you; and I thank you for this.
I really miss our silly conversations, your trivia quizzes on celebrities, your simple texts over whatsapp just to say ‘ndul kmu nggak pulang?’; but I really miss your presence in my life.
Sekarang Mama sudah tidak sakit lagi. Semoga Mama sudah berada di tempat yang terbaik.
Leave a Reply